Museum Monumen Yogya Kembali
27 September 2015 - dibaca : 1.559 kali

Museum Monumen Yogya Kembali

Museum Monumen Yogya Kembali, adalah sebuah museum sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang ada di kota Yogyakarta dan dikelola oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. beralamat Dusun Jongkang, Sariharjo, Kec. Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55284 Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.Museum yang berada di bagian utara kota ini banyak dikunjungi oleh para pelajar dalam acara darmawisata.

Museum Monumen dengan bentuk kerucut ini terdiri dari 3 lantai dan dilengkapi dengan ruang perpustakaan serta ruang serbaguna. Pada rana pintu masuk dituliskan sejumlah 422 nama pahlawan yang gugur di daerah Wehrkreise III (RIS) antara tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 29 Juni 1949. Dalam 4 ruang museum di lantai 1 terdapat benda-benda koleksi: realia, replika, foto, dokumen, heraldika, berbagai jenis senjata, bentuk evokatif dapur umum dalam suasana perang kemerdekaan 1945-1949. Tandu dan dokar (kereta kuda) yang pernah dipergunakan oleh Panglima Besar Jendral Soedirman juga disimpan di sini (di ruang museum nomor 2).

Sejarah

Monumen Yogya Kembali dibangun pada tanggal 29 Juni 1985 dengan upacara tradisional penanaman kepala kerbau dan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Gagasan untuk mendirikan monumen ini dilontarkan oleh kolonel Soegiarto, selaku walikotamadya Yogyakarta pada tahun 1983. Nama Yogya Kembali dipilih dengan maksud sebagai tetenger (peringatan) dari peristiwa sejarah ditariknya tentara pendudukan Belanda dari ibukota RI Yogyakarta pada waktu itu, tanggal 29 Juni 1949. Hal ini merupakan tanda awal bebasnya bangsa Indonesia dari kekuasaan pemerintahan Belanda.

Pembangunan monumen ini dilakukan dengan memperhitungkan beberapa faktor penting. Titik pusat bangunan ini merupakan sebuah titik yang secara imajiner menghubungkan beberapa titik penting di Yogyakarta yaitu Kraton Jogja, Tugu Yogyakarta, Gunung Merapi, Parang Tritis dan juga Panggung Krapyak. Titik ini sendiri disebut sebagai Sumbu Besar Kehidupan dan penanda dari titik imajiner ini sendiri berada pada lantai 3 bangunan monumen ini.

Monumen Jogja Kembali atau Monjali merupakan perlambang berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia dan sebagai bukti sejarah ditarik mundurnya pasukan Belanda waktu itu dari Jogja pada tanggal 29 Juni 1949 dan sekaligus kembalinya Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dan pejabat lainnya pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta. dari pengasingan.

Sejarah ini dimulai tanggal 1 Maret 1949 pukul 06.00 WIB di kota Yogyakarta. Terdengar bunyi sirene yang terdengar dari pos pertahanan Belanda pertanda waktu istirahat pasukan Belanda. Bersamaan dengan pergantian waktu tersebut Letkol Soeharto, Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III bergerak mulai menggempur pertahanan Belanda setelah mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai penggagas serangan tersebut. Pasukan Belanda yang semenjak Agresi Militer Belanda II bulan Desember 1948 pasukannya disebar ke pos pos kecil dan mulai melemah ini merupakan saat yang tepat untuk di serang pasukan TNI.

Setelah terjadi pertempuran sengit, pasukan Belanda dapat dipukul mundur keluar dari Yogyakarta dan selama 6 jam pasukan TNI berhasil menduduki Kota Yogyakarta. Selanjutnya pukul 12.00 siang pasukan TNI kembali menarik diri dari Yogyakarta karena bantuan pasukan Belanda datang.

Pertempuran tersebut dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret yang merupakan bukti pada dunia Internasional nahwa pasukan TNI masih mempunyai kekuatan untuk mengusir dan melawan penjajah keluar dari wilayah NKRI.

Pertempuran tersebut membuat Belanda marah dan akhirnya menangkap Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta yang selanjutnya diasingkan ke Sumatra dan Belanda selanjutnya membuat propaganda bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi.

Berita perlawanan dari TNI dapat dapat memukul mundur pasukan Belanda sempat dikabarkan ke Wonosari kemudian diteruskan ke Bukit Tinggi kemudian ke Birma selanjutnya ke New Delhi India dan berakhir ke kantor pusat PBB di New York. Mendengar beritta tersebut PBB menganggap Indonesia telah merdeka dan mendesak segera mengadakan Komisi Tiga Negara. Akhirnya diadakan pertemuan di Hotel Des Indes Jakarta pada tanggal 14 April 1949. Wakil dari Indonesia dipimpin oleh Moh Royen sedangkan wakil dari Belanda dipimpin oleh Van Royen dan selanjutnya menghasilkan perjanjian yang ditandatangani tanggal 7 Mei 1949 yang isinya bahwa Belanda dipaksa untuk menarik pasukannya dari Indonesia dan harus memulangkan Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta ke Yogyakarta. Akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949 Belanda resmi menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia

Monumen Jogja Kembali ini dirancang berbentuk gunung yang menjadi lambang kesuburan dan juga merupakan pelestarian dari budaya nenek moyang. Penempatan lokasi bangunan ini pun mengikuti budaya Jogja yaitu terletak pada sumbu imajiner yang menghubungkan Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan Parangtritis. Titik imajiner monumen ini terletak pada lantai tiga, tepat pada berdirinya tiang bendera.

Memasuki area monumen ini, anda akan disambut oleh replika pesawat Cureng di dekat pintu timur dan pesawat Guntai di dekat pintu barat. Menaiki teras di sebelah barrat dan timur, pengunjung akan disuguhi dua senjata mesin beroda dengan tempat duduknya. Di ujung selatan pelataran anda akan melihat dinding yang bertuliskan 420 nama pejuang yang gugur antara 19 Desember 1948 – 29 Juni 1949 dan puisi Karawang Bekasi karya Chairil Anwar untuk mengenang pahlawan yang tidak diketahui namanya.

Terdapat empat jalan untuk menuju bangunan utama monumen ini yang dikelilingi oleh kolam ( jagang). Jalan pada arah barat dan tiimur menghubungkan ke pintu masuk lantai satu, yang terdiri dari empat ruang museum yang menampilkan sekitar 1.000 koleksi yang berhubungan dengan sejarah 1 maret, seperti perjuangan sebelum kemerdekaan hingga Yogyakarta sebagai ibukota RI. Terdapat pula seragam tentara pelajar dan kursi tandu dari Panglima Besar Jendral Sudirman yang masih tersimpan dengan baik. Selanjutnya terdapat ruang sidang utama yang terletak di sebelah ruang museum 1. Terdapat pula ruangan untuk keperluan seminar atau pesta pernikahan yang berbentuk lingkaran berdiameter 25 meter.

Selanjutnya jalan utara dan selatan menghubungkan ke tangga menuju lantai dua. Pada dinding luar yang melinkari bangunan terdapat 40 relief ukir yang menceritakan perjuangan rakyat Indonesia dari tanggal 17 Agustus 1945 – 28 Desember 1949. Sedangkan didalamnya terdapat 10 diorama yang menceritakan situasi Belanda menyerang Maguwo pada tanggal 19 Desember 1948, SO 1 Maret, Perjanjian Roem Royen dan Peringatan Proklamasi 17 Agustus 1949 di Gedung Agung Yogyakarta.

Menaiki lantai teratas merupakan tempat hening yang berbentuk lingkaran yang didalamnya terdapat tiang bendera yang dipasang bendera merah putih. Ruangan ini bernama Garbha Graha yang digunakan untuk mendoakan para pahlawan dam mengenang jasa-jasanya.

Fasilitas yang tersedia di obyek wisata Monumen Jogja Kembali ini meliputi :

  • Tempat parkir
  • Rumah makan
  • Taman Pelangi untuk anak
  • Toilet dan lain-lain

Akses

Dari Bandara Adisucipto

  • Bus Transjogja datang setiap 15 menit tanyakan pada petugas jalur menuju Monjali.
  • Taxi dengan cepat mengantarkan anda ke Monjali, pandai-pandailah dalam menawar untuk taksi yang tidak menggunakan argo.
  • Ojek motor juga merupakan angkutan alternatif bila anda menginginkannya, pandai-pandailah juga dalam bernegoisasi harga.

Dari stasiun tugu

  • Jarak stasiun tugu ke monjali sekitar 2 km, dari sini bisa menggunakan taxi ataupun jasa ojek.
  • Kalau menggunakan angkutan umum Kobutri ambil jalur 17 – turun di Pingit – naik bus jurusan Tempel – turun di Ringroad kemudian naik becak atau jalan kaki.

Dari stasiun Lempuyangan

  • Bisa menggunakan taksi atau ojek

Dari Terminal Giwangan

  • Naik bus Transjogja
  • Naik bus Jurusan Tempel kemudian naik becak atau jalan kaki

Dari Terminal Jombor

  • Bus Transjogja – turun depan Monjali
  • Baik becak atau jalan kaki.