Kisah Persabahatan Hudzaifah dengan Ali bin Abi Thalib
01 Agustus 2013 - dibaca : 2.787 kali

Kisah Persabahatan Hudzaifah dengan Ali bin Abi Thalib

Hudzaifah dalam persahabatan dan bantuannya kepada Ali bin Abi Thalib As adalah senantiasa konstan dan kukuh. Terdapat banyak riwayat dari Rasulullah Saw yang dinukil Hudzaifah terkait dengan keutamaan-keutamaan Baginda Ali As.

Di antaranya adalah Zaid bin Shuhan berkata bahwa saya berada di Bashrah dan Hudzaifah memberikan wejangan kepada masyarakat dan memberikan peringatan kepada mereka tentang fitnah dan kekacauan yang bakalan terjadi. Orang-orang bertanya, jalan selamat dan bagaimana terbebas dari fitnah ini? Hudzaifah berkata, hendaklah kalian bersama kelompok yang terdapat Ali bin Abi Thalib di dalamnya. Meski bersama Ali bin Abi Thalib lebih berat daripada berperang dan merangkak dengan dua kaki; karena saya mendengar dari Rasulullah Saw yang bersabda: “Ali adalah pemimpin kebaikan dan pembunuh orang-orang durjana. Barang siapa yang menolongnya maka sesungguhnya ia menolong Allah. Dan barang siapa yang menghinanya maka Allah Swt akan menghinanya.”[6]

Ali bin Alqamah Ayadi berkata, “Tatkala Hasan bin Ali As dan Ammar bin Yasir datang ke Madain untuk mengumpulkan pasukan, Hudzaifah menderita sakit (akhir usianya). Dengan dipapah oleh dua orang, ia datang ke tengah masyarakat dan memotivasi masyarakat untuk membantu Amirul Mukminin. Ia mengajurkan mereka untuk mengikuti Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As. Hudzaifah berkata, “Ketahuilah, demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya. Barang siapa yang ingin melihat Amirul Mukminin hakiki maka hendaknya ia melihat Ali bin Abi Thalib As.”[7]

Ibnu Zafar berkata, “Tatkala Hudzaifah sekarat, aku berada di sisinya pada detik-detik terakhir kehidupannya sebuah kain ia letakkan di wajahnya. Aku berkata, “Sekarang terjadi fitnah yang ditebarkan Thalha dan Zubair pada Ali bin Abi Thalib. Perintah apa yang engkau sampaikan kepadaku? Hudzaifah berkata, “Ketika engkau telah menguburkanku, duduklah di atas kudamu dan bergabunglah dengan Ali bin Abi Thalib As; karena ia berada di atas rel kebenaran dan kebenaran tidak akan pernah berpisah darinya.[8]

Hudzaifah meninggal dunia pada masa-masa awal pemerintahan Baginda Ali As pada tahun 36 Hijriah dan dikebumikan di Madain.[9] [IQuest]

 


 

[6]. Bihâr al-Anwâr, jil. 22, hal. 109.    

[7]. Paigambar wa Yârân, jil. 2, hal. 248-249.

[8]. Bihâr al-Anwâr, jil. 2, hal. 248 dan 249.  

[9]. Ibnu Abdi al-Barr, Abu Umar Yusuf (436), al-Isti’âb fi Ma’rifat al-Shahâbah, jil. 1, hal. 334. Riset oleh Ali Muhammad al-Bajawi, Beirut, Dar al-Jail, Cetakan Pertama, 1412 H/1992 M. Paigambar wa Yârân, jil. 2, al. 240. 

Nama:
Email:
Website:
Isi:

Terpopuler