Mohon Maaf atas tidak tercantumnya semua sumber dari konten yang ada di website ini.. Terima Kasih kepada semua yang telah menyadur dan mencantumkan referensi dari website ini, semoga bermanfaat untuk semua.
Zuhud, Wara' dan Khauf
26 Juli 2013 - dibaca : 3.525 kali

Zuhud, Wara

Allah swt. Berfirman dalam hadits qudsi : "Wahai Musa! Sesungguhnya orang tidak akan dapat berpura-pura berbuat zuhud (sederhana) kepada-Ku dalam hidup di dunia dan tidak akan dapat mendekatkan diri kepada-Ku dengan berpura-pura berbuat wara' (hati-hati) dari segala hal yang diharamkan kepada mereka, dan tidak akan dapat berpura-pura beribadah kepada-Ku dengan cara menangis seolah-olah takut kepada-Ku. (HQR Qudha'i yang bersumber dari Ka'ab r.a)

Allah swt. Memberitahukan kepada Nabi Musa a.s sesungguhnya ada tiga macam amal kebajikan yang tak ada bandingannya :

1. Melakukan zuhud dalam kehidupan dunia, dalam arti berpaling dari kehidupan mewah dan tidak mengikuti hawa nafsu.

Dalam Al-Quran banyak terdapat isyarat mengenai zuhud ini, diantaranya :

Kampung akhirat itu kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di (muka) bumi dan akibat (yang baik) bagi orang-orang yang taqwa. (Q.S Al-Qashash:83)

Wahai kaumku, ikutilah aku, pasti kutunjukkan bagi kalian jalan yang benar. Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya kemewahan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah tempat tinggal yang kekal. (Q.S Al-Mu'Min :38-39)

Tetapi kalian lebih mementingkan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal. (Q.S Al-A'la: 16-17)

Para ulama salaf dan ahli tasawuf banyak menerangkan tentang zuhud. Diantaranya Fudhail bin Iyadh berkata : "Pada dasarnya zuhud berarti rela menerima apa yang diberikan Allah swt."

Sesuai dengan sabda Rasulullah saw :

"Melakukan zuhud dalam kehidupan didunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula memboroskan kekayaan. Akan tetapi zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah : tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah, dan hendaknya engkau bergembira memperoleh pahala mushibah yang sedang menimpamu walaupun mushibah itu akan tetap menimpamu." (H.R Ahmad, Mauqufan)

Berlaku zuhudlah dalam kehidupan di dunia, niscaya disenangi Allah dan berhati-hatilah terhadap milik orang lain, niscaya engkau akan disenangi orang pula.

Orang yang berlaku zuhud dapat kita lihat dari tiga ciri :

a. sedikit sekali menggemari dunia, sederhana dalam menggunakan segala miliknya, meneripa apa yang ada, serta tidak merisaukan sesuatu yang sudah tidak ada.

b. pada pandangannya, pujian dan celaan orang sama saka. Ia tidak bergembira karena mendapat pujian dan tidak pula bersusah hati karena mendapat celaan.

c. mendahulukan ridha Allah daripada ridha manusia atau merasa tenang jiwanya hanya bersama Allah swt. Dan berbahagia karena dapat menta'ati tuntunan-Nya.

Allah swt. Menyebutkan tujuh macam yang dihiaskan pada manusia berkenaan dengan kehidupan dunia. Orang yang zuhud akan tetap berlaku zuhud terhadap ketujuh macam hiasan manusia itu. Adapun ketujuh macam hiasan itu tercantum dalam firman Allah :

"Dijadikan indah pada pandangan mata manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingininya : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan (kendaraan) binatang-binatang ternak (unta, lembu dan kambing) dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allahlah tempat kembali yang baik. (Q.S Ali Imran : 14)

Ketujuh macam hiasan dunia dilukiskan dalam ayat lain sebagai berikut :

Perhatikanlah bahwa kehidupan dunia ini hanyalah permainan, godaan, perhiasan dan bermegah-megah diantara kalian serta berlomba-lomba dalam menimbum harta kekayaan dan memperbanyak anak untuk kesombongan diri. (Q.S Al-Hadid :20)

Kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan godaan. (Q.S Al-An'am :32)

Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rab-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (Q.S An-Naziat : 40-41)

Dari ayat-ayat tersebut diatas dapatlah disimpulkan bahwa zuhud itu berarti mengekang hawa nafsu dan menyalurkannya kepada hal-hal yang baik.

2. Amal kebajikan yang kedua  ialah wara'. Wara' itu pada dasarnya ialah menahan diri dari hal-hal yang haram, kemudian diperluas menjadi menjadi menahan diri dari hal-hal yang mubah walaupun halal.

Nabi Saw. Telah menghimpunkan hal-hal wara' itu semuanya dalam sabdanya : "Sebagian ciri Muslim yang baik ialah meninggalkan hal-hal yang tidak berarti baginya. (H.R Tirmidzi dan lain-lain)

Hadits ini secara umum menguraikan bahwa ukuran keislaman seseorang dapat dilihat dari usaha orang tersebut dalam meninggalkan hal-hal yang tidak berarti baginya, termasuk perkataan, penglihatan, pendengaran, pemikiran, perjalanan, tindakan dan semua gerak-gerik lahir dan bathin.

Ibrahim bin Adham, Seorang sufi yang terkenal, berkata : "Wara' itu ialah meninggalkan semua syubhat dan meninggalkan apa-apa yang tidak berarti baginya, yaitu semua hal yang tidak berguna dan sia-sia".

Syibli seorang sufi lain dan ahli wara' yang terkenal berkata : Wara' berarti menjauhkan diri dari segala sesuatu selain dari Allah swt."

Ishaq bin Khalaf, Juga seorang sufi ahli wara' dan zuhud yang terkenal berkata : "Wara' dalam bertutur kata (tidak banyak cakap) lebih berharga dari emas dan perak.Zuhud dalam pimpinan (tidak ambisius) lebih sulit daripada emas dan perak. Sebab emas dan perak dapat dipertaruhkan untuk memperoleh kedudukan".

3. Amal kebajikan yang ketiga ialah khauf, menangis karena takut akan keagungan Allah swt. Bukan menangis disebabkan sedih karena tidak punya uang belanja atau karena melihat anaknya sendiri tidak berpakaian baru pada hari lebaran, atau karena ditinggalkan anak istri yang meninggal dunia, dan sebagainya.

Menangis karena takut akan keagungan Allah menunjukkan kelemah lembutan hati. Nabi Saw, kadang-kadang menangis karena kasihan pada yang meninggal atau yang ditinggal wafat, menangis karena kuatir akan masa depan ummatnya, menangis karena keagungan Allah ketika mendengar bacaan Al-Quran, atau sedang shalat malam.

Dalam suatu riwayat pernah dilukiskan  bahwa Nabi saw. Menangis ketika salah seorang membaca ayat ini : "Bagaimanakah kelak apabila Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul dan Nabi) dari tiap-tiap ummat dan Kami hadapkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu." (Q.S An-Nisa : 41)

Hadits Qudsi ini, ada hubungannya dengan hadits qudsi mengenai diharamkannya neraka bagi orang yang menangis karena takut akan keagungan Allah swt.

Semoga Allah swt. Memasukkan kita pada kaum yang zuhud, wara, dan takut (khauf) akan keagungan Allah swt. Amien. (Sumber Hadits Qudsi Pola Pembinaan Akhlak Muslim Hal 287-291)


Terpopuler